PERJUANGAN TIADA AKHIR
Setahun kemudian, pada hari itu Tigor gembira sekali karena ada seorang pelatih sepak bola yang mengadakan seleksi pemain muda di wilayah pesisir tempatnya tinggal, kabarnya yang lolos seleksi akan dimasukkan ke sebuah sekolah sepak bola di luar negeri. Dengan semangat dan tekadnya untuk merubah keadaan keluarganya ia memberanikan diri untuk mengikuti seleksi pemain muda tersebut, tak lupa ia mengajak teman-temannya mengikuti seleksi tersebut. Ternyata ia diterima oleh pelatih sepak bola tersebut untuk belajar di sekolah sepak bola di luar negeri, dia sangat senang sekali mendengar hasil seleksi tersebut ditambah lagi seluruh biaya sekolah sepak bola di luar negeri tersebut dibiayai oleh sang pelatih, tetapi ada yang membuat dia galau karena dia harus meninggalkan kedua orang tua tercintanya, kedua orang tua Tigor tidak memberatkan kepergian Tigor ke luar negeri.
Sudah saatnya Tigor berangkat ke sekolah sepak bola luar negeri, dia berpamitan kepada ayah ibu nya dan berjanji akan mengirimkan surat setiap hari. berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun kemudian, sudah saatnya Tigor memilih tim sepak bola yang akan dia bela, tim yang di luar negeri atau tim di negaranya, dia ingin sekali membela tim di negaranya, karena ingin kembali ke negaranya rindu dengan kedua orang tuanya yang beberapa bulan terakhir ini tidak mengirim surat kepadanya, tetapi di sisi lain kondisis sepak bola di negara Tigor sudah diambang kehancuran yang dikarenakan monster-monster bola yang menghancurkan kreativitas, sportivitas sepak bola. Tigor akhirnya lebih memilih tim yang di luar negeri dikarenakan kondisi sepak bola di negaranya.
Akhirnya oleh sang pelatih, Tigor diberi kesempatan untuk pulang beberapa hari untuk melihat keadaan orang tuanya, saat sampai disana Tigor terkejut sekali karena kampung halamannya telah porak poranda akibat aktivitas pertambangan pasir yang tidak bertanggung jawab, wilayah pesisir yang indah dulu telah hancur, pantai indah yang dulu sering digunakan untuk sepak bola juga telah hancur, sekarang senja di wilayah pesisir tidak indah seperti dulu lagi. Tigor mulai berjalan menuju rumah orang tuanya dengan kepala tertunduk melihat kampungnya yang dulu telah hancur, lalu saat sampai di rumah orang tuanya hanya terlihat ibunya yang sedang batuk keras, saat bertemu ibunya, Tigor langsung memeluk ibunya dengan berlinangan air mata begitu juga sang ibu menangis tersedu-sedu, saat Tigor menanyakan tentang ayahnya ibunya hanya terdiam dan menangis, ternyata ayah Tigor telah tiada satu bulan lalu karena tenggelam saat berlayar. Tigor menangis dan berusaha meluapkan kesedihannya, jadi itulah mengapa orang tua Tigor beberapa bulan terakhir tidak mengirim surat.
Keesokan hari nya Tigor ingin mengajak ibunya ke luar negeri untuk berobat dan sekalian pindah dari tempat yang sudah hancur ini, ibunya mau dan langsung pada hari itu juga mereka berangkat ke luar negeri. Saat sampai di luar negeri Tigor memasukkan ibunya ke Rumah Sakit Fuchsia untuk menjalani pengobatan, dan dia mulai masuk tim sepak bola disana dan berlatih, dia bertekad menjadi pemain hebat. Bertahun-tahun kemudian jadilah Tigor pemain sepak bola terhebat sedunia, dia menjadi kaya raya, tetapi sifatnya tetap rendah hati, dia suka membantu orang-orang meminta bantuan padanya, dia hidup bahagia bersama ibu nya. Suatu saat Tigor pernah diwawancarai dan Tigor berkata “ waktu kecil, saya pernah berkata kepada ayah saya ingin mempunyai rumah yang mewah dan besar untuk kami tinggali, tetapi ayah saya tertawa dan mengelus kepala saya. Tapi sekarang saya telah menjawab keraguan ayah saya, dan mungkin ayah saya sedang tersenyum dan bangga kepada saya di surga”
END